Srikandi PKNU Dapil VII

Henny Purwaningsih. Perempuan yang dikenal cukup giat dalam berbagai organisasi kemasyarakat ini dicalonkan PKNU sebagai anggota DPRD Jatim.

Dari Model ke Caleg PBR

Dari model, Pungky Sukmawati kini dicalonkan PBR menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, Surabaya & Sidoarjo.

Masruroh Wahid dari Guru Hingga Senayan

Dra Hj Masruroh Wahid, M.SI. Karir politiknya melejit. Ketua PW Muslimat NU Jatim periode 2005-2010 ini dicalonkan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan 8 Jawa Timur nomor urut 1.

Darwis: PR Gus Dur untuk PKB Sumenep

Wakil Ketua Dewan Syuro DPC PKB Sumenep Darwis Mazar menyakini suara warga Sumenep tetap kompak. Pemilu ini ditargetnya mendapat 30 kursi.

Drs. H. Fathorrosjid, MSi.

Drs. H. Fathorrosjid, MSi. Calon Legislatif dari PKNU untuk DPR RI Nomor Urut 1 Dari Daerah Pemilihan  3 Jawa Timur  (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi).
 

Imam Nahrawi: Kalau Percaya Pilih Saya, Jika Tidak Pilihlah PKB!

Imam Nahrawi, SAg. Dia adalah Ketua PKB Jatim yang pada Pemilu 2009 kembali dicalonkan partainya untuk DPR RI. Bapak beranak tiga yang maju nomor urut 2 untuk daerah pemilihan Jatim I ini optimis PKB akan tetap mendapat kepercayaan dari rakyat.

Tunggu Apa Lagi?

Halaman ini diperuntukan bagi para calon legislatif (caleg) yang ingin menyampaikan program atau visi misi serta beragam kegiatannya. Bagi yang berminat bisa menghubungi 03171107264

Kamis, 15 Januari 2009 11:35:27 WIB

Membongkar Kurungan Tugu Pahlawan

Reporter : Arif Afandi | PilihSaja.Net

Ide membongkar pagar Tugu Pahlawan sempat mencuat ke permukaan. Namun, rencana itu masih belum bisa terealisasikan. Masih banyak yang menginginkan lingkungan monumen yang diarsiteki Presiden RI Pertama Bung Karno ini tetap seperti sekarang. Banyak juga yang mendesak untuk dibongkar lagi pagarnya biar sesuai dengan karakter masyarakat Surabaya.

Jangan salah dulu. Yang arsiteknya Ir Soekarno adalah monumennya. Sedangkan pagar yang mengelilingi itu adalah arsitek pemenang sayembara pembangunan kawasan Tugu Pahlawan. Konon, menurut cerita Cak Kadaruslan, aristeknya orang Jogja. Karena itu, tugu pahlawan disarungi pagar biar orang yang ada di dalamnya bisa khusyuk. Mereka yang masuk ke dalamnya bisa meresapi suasana hening mengenang para pahlawannya.

Karena itu, Cak Kadar yang kini menjadi kepala suku Pusura dan seniman Surabaya itu sempat mencak-mencak. Dia bilang, Tugu Pahlawan dibikin bukan untuk tempat pemujaan. Tugu itu dibikin sebagai tetenger atas kegigihan arek-arek Surabaya dalam melawan tentara Sekutu pada 10 Nopember. Ia juga bukan tempat semedi atau panepen seperti yang ada di kultur keraton di Jawa. Jadi, kata dia, lingkungan Tugu Pahlawan yang sekarang ahistoris.

Yang merancang pagar itu juga punya argumentasi sendiri. Bukan alasan kekhusukan semata. Tapi pagar itu diperuntukkan sebagai bagian untuk menjaga kemegahan arsitektural Tugu Pahlawan. Menurut pendukung arsitek itu, bentuk Tugu Pahlawan ini tidaklah megah seperti Tugu Monas. Atau tugu yang ada di Memorial Park depan Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. Karena itu, kalau sekitarnya polosan, tampak seperti pena besar yang dipasang di tanah lapang. ‘’Tidak angker,’’ katanya.

Saya bisa menghargai argumen arsitek tersebut. Namun, akan lebih baik setiap tetenger dan monumen tidak meninggalkan karakter maupun kultur masyarakat setempat. Harus diakui bahwa arek Suroboyo berbeda dengan wong Jogja. Mereka lebih terbuka. Suka blak-blakan. Juga tidak begitu tegas stratifikasi sosialnya. Sifatnya cenderung egaliter. Ini yang membikin lebih akrab satu sama lainnya.

Di Surabaya juga tidak begitu banyak lahan terbuka. Jumlah penduduk yanag besar, serta pertumbuhan kota yang pesat, membuat ruang terbukannya makin menyempit. Di sinilah dibutuhkan semakin banyak ruang publik yang bisa dimanfaatkana masyarakat setiap saat. Dengan model arsitektur lingkungan Tugu Pahlawan yang sekarang, kebutuhan untuk tersedianya ruang publik itu menjadi tidak terpenuhi.

Jadi, sebaiknya pagar itu dibongkar saja. Lantas apa cukup hanya membongkar? Tentu tidak. Perlu ada langkah revitatalisasi atau rekonstruksi lingkungan tugu Pahlawan yang lebih menyenangkan. Saya sempat mengunjungi Memorial Park di Washington. Di sana, setiap saat kita bisa menyaksikan orang bersantai di atas rumput dan plasa dengan di kelilingi tanaman-tanaman rindang. Tidak ada pedagang berseliweran. Juga tidak ada kendaraan lalu lalang.

Tapi bisakah hal itu juga diberlakukan di Tugu Pahlawan? Bisa dengan syarat. Kita tidak hanya membongkar pagar. Tapi juga membangun kawasan itu menjadi lebih terbuka. Misalnya, untuk menghindari kesemrawutan kendaraan, perlu ada parkir bawah tanah. Ini menjadi tempat pemberhentian bus dan sebagainya. Sehingga begitu keluar dari parkir, mereka langsung menikmati taman dan melihat Tugu Pahlawan yang megah. Soal keamanan, bisa diatur dengan Satpol PP dan kepolisian.

Saya menyaksikan hampir semua town square atau alun-alun di Amsterdam selalu ada parkir bawah tanahnya. Juga di sebagian besar tempat publik di Eropa. Di Tugu Pahlawan juga sangat bisa. Apalagi, sekarang sudah ada bangunan bawah tanahnya yang dipakai sebagai museum dan diorama. Kalau di bagian selatan yang kini menjadi halaman tugu pahlawan dibangun parkir bawah tanah masih sangat memungkinkan.

Yang jelas, kelak kalau pagar tugu Pahlawan dibongkar maka semangatnya adalah untuk mengembalikan karakter Suroboyo-an. Juga untuk menyediakan ruang publik yang membuat tetenger itu banyak dikunjugi warga. Tentu untuk menuju ke sana diperlukan perencanaan sarana dan prasarana pendukung yang matang. Juga diperlukan penataan kawasan di sekitarnya. Ruko di sebelah selatannya harus diubah arsitekturalnya biar sesuai dengan kawasan setempat.

Rasanya sudah waktunya berpikir membangun sesuatu dengan taste atau rasa. (Penulis adalah wakil walikota Surabaya)


Baca Juga