Jelang Pemilu, Nyepi di Denpasar Tanpa Ogoh-ogoh
Denpasar - Perayaan hari raya Nyepi Caka 1931 di Bali identik dengan pawai ogoh-ogoh berbentuk raksasa. Namun pada Nyepi 26 Maret arak-arakan ogoh-ogoh d Denpasar ditiadakan karena berdekatan dengan Pemilu 9 April 2009.
Demikian kesepakatan paruman bendesa adat yang disampaikan oleh Ketua Paruman Bendesa Pakraman Denpasar I Wayan Meganadha di kantor Walikota Denpasar, jalan Udayana, Denpasar, Selasa (10/2/2009). Keputusan tersebut akan disampaikan kepada masing-masing muda-mudi di desa masing-masing.
Peniadaan pawai ogoh-ogoh di Denpasar karena Hari Raya Nyepi jatuh pada masa kampanye pemilihan umum legislatif 2009 dan upacara besar umat Hindu Karya Agung Panca Bali Krama di Pura Besakih.
Alasannya lainnya adalah pada arak-arakan ogoh-ogoh di malam pengerupukan kerap terjadi konflik pemuda antar banjar. Konflik ini dikhawatirkan menjalar ke perhelatan pemilu.
"Hari Raya Nyepi Saat Nyepi Tidak dilaksanakannya pawai ogoh-ogoh saat malam pengerupukan untuk antisipasi keamanan Denpasar tetap aman serta kondusif menjelang dan saat pemilu," kata Meganadha.
Sementara itu, Ketua Majelis Madya Desa Pekraman Denpasar I Made Karim mengatakan tidak adanya peta ogoh-ogoh bukan tidak menghalangi kreativitas muda-mudi Denpasar serta tidak mengurangi makna Nyepi.
"Pelarangan ini juga bertujuan agar pelaksanaan tapa brata penyepian dan pesta demokrasi bisa berjalan beriringan dengan baik," ujar Made Karim.
Keputusan pelarangan pawai ogoh-ogoh hingga kini masih hanya berlaku di Denpasar. Sedangkan kabupaten lain belum mengambil keputusan apakah akan meniadakan atau tetap merayakan Nyepi dengan pesta ogoh-ogoh.(Sumber: detikcom)
